Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

11 - 7 = 4

Hmmm, sebuah permainan angka yang menarik dari para simpatisan calon DKI 1. Sebuah kebetulan yang menjadikan kreatifitas dalam masa kampanye bahkan sampai masa tenang sekalipun :D. Terlepas dari semua itu majunya calon No. 4, Dr. Hidayat dan Prof. Didik merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang patut diberikan apresiasi, dikarenakan kita semua mau tidak mau harus mengakui bahwa beliau adalah orang yang seharusnya bisa maju sebagai capres, namun dikarenakan kerendahan hati beliau, menerima tugas yang diberikan oleh partainya.  Jakarta adalah Ibukota Indonesia, wajah Jakarta merupakan cerminan Negara Indonesia, makanya adalah sebuah keniscayaan untuk menjadikan Jakarta yang lebih baik, dimulai dengan pemilihan pemimpin yang baik dan terpercaya. Warga Jakarta harus berani menentukan, mau jadi apa Jakarta 5 tahun kedepan. So saat inilah anda semua warga Jakarta yang memutuskan. Oleh karenanya berikan putusan terbaik bagi anda dan warga Jakarta lainnya.  Mengaca dari Pemilu...

Lanjutan Skenario ... Masa SMA

Gambar
Tahun 1999, banyak kejadian yang terjadi ditahun tersebut. Tidak hanya lingkup pribadi namun skala nasional loh :D. Pemilihan presiden pertama setelah masa Presiden Soeharto dan Pak Habibi sebagai pengganti sementara. Dan terpilihnya KH. Abdurahman Wahid sebagai presiden definitif. Ada momen luar biasa dikala kampanye pemilu presiden tahun 1999 kala itu, aku untuk pertama kalinya ikut menghadiri  kampanye sebuah partai yang serba putih dan mengusung Capres KH. Didin Hafidudin di daerah bakosurtanal Cibinong, ada yang menarik dari kampanye partai serba putih ini, hampir semua wanita yang ikut kampanye adalah wanita berjilbab lebar, hmmm... interaksi yang ternyata merupakan awalan dari sebuah sikap pribadi di masa 3-4 tahun selanjutnya yang tanpa terpikirkan sebelumnya untuk menggabungkan diri menjadi bagian dari sebuah jamaah yang merupakan induk partai tersebut. Saat itu aku diajak oleh teman bernama Asep dan Saepudin untuk mengikuti kampanye partai tersebut karena mereka merupaka...

Lanjutan Skenario ..., Masa SMP

Gambar
Selepas lulus dari SD di Palembang, akhirnya aku kembali bergabung dengan keluarga aku di Pulau Jawa, Tahun 1996 aku berangkat dari kampung Raksajiwa, Palembang menuju Pulau Jawa bersama mama, menyusuri Jalan Lintas Sumatra menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung, melintasi laut Selat Sunda menaiki kapal Ferry. Perjalanan dari kampung aku menuju Jakarta itu memakan waktu kurang lebih masa berangkat jam 2 siang sampai sekitar jam 10 paginya, berapa jam ya? -/+ 20 jam ya??? hehehe.. Dan ternyata keluarga kami sudah pindah ke sebuah daerah bernama gang Dukuh, masuk kecamatan Cibinong. Disebuah kontrakan petakan. Alhamdulillah akhirnya aku berkumpul kembali dengan keluarga besar aku juga, setelah 2 tahun berpisah. Dan ternyata kami bertetangga dengan saudara 1 kampung kami di Palembang yaitu Keluarga Om Rustamin, ternyata beliau dimasukin kerja oleh papa di perusahaan papa. Tempat tinggal kami ini adalah sebuah lingkungan padat penduduk.  Ternyata meski NEM SD aku terhitung besa...

Skenario Allah yang Indah

Gambar
Menapaki takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, maka tiada kata yang pantas diucapkan selain ucapan syukur yang tak terhingga, karena begitu indahnya jalan yang diberikan. Menjalani masa kecil dengan nomaden, mama sering cerita dulu itu keluarga kami pindah dari bogor, ke depok balik lagi ke bogor. Dan ketika di Depok itulah aku dilahirkan. Tepatnya dikampung Sidamukti. Dengan dibantu seorang Bidan, Christine namanya, terlahirlah seorang anak yang dengan masukan sang bidan diberi nama Oke Hendra, yang artinya? :D oke itu katanya diambil dari bulan kelahiran yaitu Oktober, hanya itu yang aku dapatkan dari orang tua aku mengenai arti namaku. Seingat aku mulai usia menjelang TK kami sekeluarga pindah ke daerah yang bernama Gang Sawo, kalau sekarang posisinya itu dekat dengan Polsek Cimanggis. Disana kami tinggal sampai aku usia SD kelas 2, selanjutnya kami pindah lagi ke Gang Nangka, tepatnya Komplek 201. Oh ya, sebelum beranjak ke kisah selanjutnya baca dulu perkena...