Lanjutan Skenario ..., Masa SMP
Selepas lulus dari SD di Palembang, akhirnya aku kembali bergabung dengan keluarga aku di Pulau Jawa, Tahun 1996 aku berangkat dari kampung Raksajiwa, Palembang menuju Pulau Jawa bersama mama, menyusuri Jalan Lintas Sumatra menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung, melintasi laut Selat Sunda menaiki kapal Ferry. Perjalanan dari kampung aku menuju Jakarta itu memakan waktu kurang lebih masa berangkat jam 2 siang sampai sekitar jam 10 paginya, berapa jam ya? -/+ 20 jam ya??? hehehe..
Dan ternyata keluarga kami sudah pindah ke sebuah daerah bernama gang Dukuh, masuk kecamatan Cibinong. Disebuah kontrakan petakan. Alhamdulillah akhirnya aku berkumpul kembali dengan keluarga besar aku juga, setelah 2 tahun berpisah. Dan ternyata kami bertetangga dengan saudara 1 kampung kami di Palembang yaitu Keluarga Om Rustamin, ternyata beliau dimasukin kerja oleh papa di perusahaan papa. Tempat tinggal kami ini adalah sebuah lingkungan padat penduduk.
Ternyata meski NEM SD aku terhitung besar kala itu tapi untuk mendapatkan SMP favorit itu susah, entah mengapa, yang aku dengar dari papa, bagi lulusan luar daerah harus memiliki surat pindah rayon dari dinas pendidikan daerah setempat. Hmmm ... SMPN pertama yang menolak aku adalah SMPN 1 Cimanggis lalu SMPN 1 Cibinong. Akhirnya setengah putus asa untuk mendapatkan sekolah negeri, papa mendapatkan informasi dari temannya untuk mencoba memasukan aku ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Cibinong, sekolah negeri dibawah Departemen Agama setingkat dengan SMP. Dan Alhamdulillah ternyata sekolah ini tidak membutuhkan yang namanya surat pindah rayon tersebut, dan aku masuk menjelang ditutupnya penerimaan sekolah negeri kala itu.
Hmmm... di MTs ini aku mendapatkan pengalaman yang cukup berguna, dimana di Mts aku mendapatkan tambahan pelajaran yang tidak didapatkan di SMP biasa, disini kami mendapatkan pelajaran PAI yang lebih beragam. Kalau di SMP mata pelajaran agama 2 jam seminggu, disini PAI itu dibagi menjadi pelajaran Akidah Akhlaq, Bahasa Arab, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih so setiap hari dalam sepekan ada pelajaran Agama Islam. Alhamdulillah meski harus menemui kesulitan adaptasi pelajaran, namun selama 3 tahun di Mts ini aku berhasil mempertahankan prestasi aku dan puncaknya aku mendapatkan NEM tertinggi yaitu 45, dan masuk 4 besar se-jawa barat kala itu(1998-1999). Di masa SMP ini aku mulai menemukan dan merasakan rasa suka kepada lawan jenis (Cinta Monyet katanya yaah :D). Dan juga merasakan pertama kalinya ikut tawuran ( sekolah kami diserang oleh gabungan SMP ), wuih serem sekali ya, masih SMP sudah tawuran :D. Selain itu pada tanggal 12 - 21 Mei 1998 saat terjadi kerusuhan luar biasa di Indonesia pun menjalar hingga Cibinong saat itu. Aku dipaksa berjalan kaki dari Cibinong oleh massa, dikarenakan semua angkutan umum dilarang beroperasi... Wew lumayan berjalan dari MAN Cibinong sampai gedung lama MTs yang kala itu berada di daerah Pakansari dekat Ponpes At Takwa. Ada hal yang lucu terjadi ketika akan ada acara perpisahan di MTs Cibinong, kala itu dikarekan aku merupakan peringkat pertama NEM, maka aku di plot menjadi Manten pada acara perpisahan itu :D, namun aku menolak, sehingga pada hari H, akhirnya temanku bernama Alfian yang menggantikan aku bersama manten perempuan Prita, :D. Sedangkan aku datang kesana menggunakan pakaian pramuka dengan celana biru khas SMP :p
Sedangkan masa SMP aku di rumah, dilalui dengan kegiatan biasa dan normal ala anak SMP, Namun ada hal yang lucu terjadi, kala itu kakak Yayat mempunyai motor baru, Motor China bermerk Jialing, saat itu aku dibonceng untuk melakukan suatu hal bersama kakak, berangkatlah kami dengan sang motor, ketika di tikungan tiba-tiba ada seorang nenek yang melintas di jalur kami, karena tikungan maka ka Yayat kaget dan lepas kontrol sehingga akhirnya kami dibawa terbang Sang Bangau (Jialing ) meluncur indah, gedebukkkk, kami jatuh bersama namun Alhamdulillah tidak parah baik kami, bangau dan Sang Nenek. :)
Ya masa yang indah, melalui usia ABG dengan penuh cerita ringan, dan pastinya sedikit banyak membentuk diriku saat ini.
Berlanjut ...
MTsN CIBINONG
Hmmm... di MTs ini aku mendapatkan pengalaman yang cukup berguna, dimana di Mts aku mendapatkan tambahan pelajaran yang tidak didapatkan di SMP biasa, disini kami mendapatkan pelajaran PAI yang lebih beragam. Kalau di SMP mata pelajaran agama 2 jam seminggu, disini PAI itu dibagi menjadi pelajaran Akidah Akhlaq, Bahasa Arab, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih so setiap hari dalam sepekan ada pelajaran Agama Islam. Alhamdulillah meski harus menemui kesulitan adaptasi pelajaran, namun selama 3 tahun di Mts ini aku berhasil mempertahankan prestasi aku dan puncaknya aku mendapatkan NEM tertinggi yaitu 45, dan masuk 4 besar se-jawa barat kala itu(1998-1999). Di masa SMP ini aku mulai menemukan dan merasakan rasa suka kepada lawan jenis (Cinta Monyet katanya yaah :D). Dan juga merasakan pertama kalinya ikut tawuran ( sekolah kami diserang oleh gabungan SMP ), wuih serem sekali ya, masih SMP sudah tawuran :D. Selain itu pada tanggal 12 - 21 Mei 1998 saat terjadi kerusuhan luar biasa di Indonesia pun menjalar hingga Cibinong saat itu. Aku dipaksa berjalan kaki dari Cibinong oleh massa, dikarenakan semua angkutan umum dilarang beroperasi... Wew lumayan berjalan dari MAN Cibinong sampai gedung lama MTs yang kala itu berada di daerah Pakansari dekat Ponpes At Takwa. Ada hal yang lucu terjadi ketika akan ada acara perpisahan di MTs Cibinong, kala itu dikarekan aku merupakan peringkat pertama NEM, maka aku di plot menjadi Manten pada acara perpisahan itu :D, namun aku menolak, sehingga pada hari H, akhirnya temanku bernama Alfian yang menggantikan aku bersama manten perempuan Prita, :D. Sedangkan aku datang kesana menggunakan pakaian pramuka dengan celana biru khas SMP :p
Sedangkan masa SMP aku di rumah, dilalui dengan kegiatan biasa dan normal ala anak SMP, Namun ada hal yang lucu terjadi, kala itu kakak Yayat mempunyai motor baru, Motor China bermerk Jialing, saat itu aku dibonceng untuk melakukan suatu hal bersama kakak, berangkatlah kami dengan sang motor, ketika di tikungan tiba-tiba ada seorang nenek yang melintas di jalur kami, karena tikungan maka ka Yayat kaget dan lepas kontrol sehingga akhirnya kami dibawa terbang Sang Bangau (Jialing ) meluncur indah, gedebukkkk, kami jatuh bersama namun Alhamdulillah tidak parah baik kami, bangau dan Sang Nenek. :)
Ya masa yang indah, melalui usia ABG dengan penuh cerita ringan, dan pastinya sedikit banyak membentuk diriku saat ini.
Berlanjut ...
Komentar
Posting Komentar