Skenario Allah yang Indah


Menapaki takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, maka tiada kata yang pantas diucapkan selain ucapan syukur yang tak terhingga, karena begitu indahnya jalan yang diberikan.

Menjalani masa kecil dengan nomaden, mama sering cerita dulu itu keluarga kami pindah dari bogor, ke depok balik lagi ke bogor. Dan ketika di Depok itulah aku dilahirkan. Tepatnya dikampung Sidamukti. Dengan dibantu seorang Bidan, Christine namanya, terlahirlah seorang anak yang dengan masukan sang bidan diberi nama Oke Hendra, yang artinya? :D oke itu katanya diambil dari bulan kelahiran yaitu Oktober, hanya itu yang aku dapatkan dari orang tua aku mengenai arti namaku.

Seingat aku mulai usia menjelang TK kami sekeluarga pindah ke daerah yang bernama Gang Sawo, kalau sekarang posisinya itu dekat dengan Polsek Cimanggis. Disana kami tinggal sampai aku usia SD kelas 2, selanjutnya kami pindah lagi ke Gang Nangka, tepatnya Komplek 201.

Oh ya, sebelum beranjak ke kisah selanjutnya baca dulu perkenalan keluargaku ya ... :)
aku merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara dari pasangan Bapak bernama Adiyono dan Ibu bernama Ismawati, beliau berdua merupakan pasangan suami istri asli Palembang. satu kampung looohhhh :D

Kakak pertama aku bernama Yayat Sugara, saat ini telah beristri bernama Emilia Susanti dan memiliki 2 orang anak bernama Rahma Azizah dan Rania Nuraini. Sedang kakak kedua bernama Anton Saputra, tentunya sudah beristri bernama Mbak Wiwik dan seorang anak bernama Qeis. Dan terakhir adik satu-satunya bernama Muhammad Firdaus.

Selanjutnya di gang Nangka kami tinggal sampai aku kelas 4, karena setelah itu karena adanya kesulitan keuangan keluarga, terpaksa keluarga kami terpisah, aku bersama Kak Anton dan Adik Firdaus bersama mama pulang kampung ke Palembang tinggal bersama kakek dan nenek. Sedangkan Papa dan Kak Yayat tetap disini namun pindah ke mess perusahaan papa, PT. Putra Sejati.

Sebelumnya mari kita bercerita mengenai pekerjaan papa, beliau setelah lulus STM di Palembang sebenarnya sudah diterima kerja di perusahaan semen Tiga Gajah Baturaja, namun karena suatu lain hal akhirnya beliau harus merantau ke Pulau Jawa setelah menikah dengan mama. Setelah mencari kesana kemari akhirnya beliau diterima di sebuah perusahaan pemintal, PT. Putra Sejati sebuah perusahaan milik seorang anggota DPR kala itu, cerita papa. :D dengan segala dedikasi yang diberikannya papa dapat mencapai posisi hingga Kepala Bagian, meski berbagai intrik ala perusahaan swasta senantiasa beliau dapatkan.

Mengenyam pendidikan TK pada tahun 1989, saat itu dikarenakan usia yang nanggung kata mama, aku yang berusia hampir 6 tahun saat itu belum bisa masuk SD akhirnya, ya masuk TK tingkat C di TK Angkasa Ria II :D. Yang aku ingat ketika TK itu, pernah ikut lomba nasional meski tidak juara namun semua peserta mendapat piagam dan hadiah pertukaran antara masing-masing peserta. Setahun kemudian akhirnya masuk SD di SDN RRI Cimanggis, Alhamdulillah setiap tahunnya dapat piagam dari harapan I, Juara III tahun ke 2, Juara II tahun ke 3 dan juara I di kelas 4, di SD RRI Cisalak ini aku punya saingan prestasi namanya Erika Br Hutapea, sebenarnya dia itu barengan aku dari TK loohh :D. Dia yang selalu bisa mengalahkan aku hingga tahun ketiga aku di SD ini, namun pada akhirnya di kelas 4, dia takluk juga. hehehe. 

SDN RRI CISALAK


Sayangnya kemenangan ini tidak berlanjut karena kelas 5 aku pindah ke Palembang bersama mama, ka Anton dan adik Firdaus. Namun Alhamdulillah, karena mungkin karena perbedaan kualitas jawa dan luar jawa (kali yaah) di SD yang baru ini aku tidak memiliki saingan yang kompetitif, oh ya nama SD nya adalah SDN Raksajiwa. setiap tahunnya aku hattrick Juara I dan puncaknya dikelas 6 aku dapat beasiswa dari Dinas Pendidikan Kabupaten OKU, setiap bulannya 100 ribu ditahun 1995 itu cukup besar lohh. :D

Di Palembang ini banyak sekali cerita yang hendak aku bagi, dari pengalaman menunggu buah durian jatuh dan berebut dengan babi hutan yang besarnya seperti anak kerbau, hingga nelangsanya ditinggal mama dan saudara-saudara kembali ke Jakarta berkumpul kembali dengan papa dan ka yayat. :(. Ikut memulai masa tanam bersama om dan kakek nenek sampai dengan menuai padi gogo di huma ditengah hutan sumatra yang lebat dan masih perawan. Belajar membuat jala dan jaring ikan, sampai menyusuri sungai Ogan untuk menjaring ikan. Hmmm... pengalaman masa kecil yang indah. Namun terbetik kisah sedih karena Nenek Bunayah dari mama, meninggal ditahun 1996. Dari memanen buah duku, rambutan, durian, mangga dan berbagai jenis buah lainnya hingga menjual buah dipinggir jalan, karena jalan raya di kampung kami merupakan jalur lintas tengah sumatra. 

Itulah masa kecilku hingga SD, dan setelah lulus SD dengan nilai NEM 42, NEM tertinggi sekabupaten, akhirnya aku kembali bersatu dengan keluarga besarku di pulau jawa.

Alhamdulillah jika melihat kembali masa kecil yang aku lalui akhirnya aku mendapatkan kesimpulan bahwa betapa indahnya skenario Allah kala itu, meski ketika menjalaninya dengan berat karena harus berpisah dengan keluarga, ribuan kilometer, tinggal bersama nenek Suaibah. Namun ternyata banyak ibroh yang aku dapatkan, ya banyak sekali, seperti kemandirian, kompetisi, dan pertemanan ala kampung di Palembang. 

berlanjut ... (tunggu yahhh :p)

Komentar

  1. Inspiratip sekali....bagus ceritanya dan bahasanya....salam kenal...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhirnya ...

Tour de Europe Part 1

050211 to 050218