perjalanan 4 ... Dan Kejadian Itu Berulang ...
Saat itu adalah untuk pertama kalinya kami merasakan jalan-jalan berdua, senangnya hati setelah sekian lama selalu bersama-sama teman yang lain. Ya hari itu kami habisi dengan mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di Kyoto, Teramachi Sanjo. Setelah menyusuri setiap toko yang menjajakan berbagai jenis dan macam barang maka akhirnya kami membeli beberapa oleh-oleh untuk saudara dan teman nun jauh di Indonesia, beberapa helai baju, lalu kamipun membeli baju khas jepang yukata untuk dia dan ponakan kami yang baru lahir. Setelah malam beranjak kamipun mulai berjalan menuju halte bis No. 17. (ternyata di Kyoto ada dua bis dengan nomor yang sama yaitu 17, bis pertama dengan tujuan Ohara, dan yang lainnya menuju Ginkaku-ji)
Peristiwa yang memberi kesan adalah disaat kami kebingungan mengenai halte bis, dan setelah mengejar bis yang telah beranjak sekian menit akhirnya kami menunggu untuk bis selanjutnya maka tiba-tiba dari arah belakang datang seorang kakek berusia 70-an (ceritanya) dengan bahasa inggris a la japanese maka berkomunikasilah kami, beragam cerita mengalir dan kamipun menjadi sejenak akrab, lalu bergabunglah seorang ibu ikut berdialog dengan kami mengenai arah dan tujuan bis yang hendak kami naiki. Setelah beberapa menit berlalu datanglah bis yang ditanti, lalu naiklah kami dengan ibu yang terakhir bergabung, dia berkata nanti kalau sudah sampai halte demachiyanagi diberi tahu. Dan setelah sampai di halte yang dituju bermulalah cerita ini...
Ya setelah kami turun dari bis, dan berjalan tiba-tiba sadarlah kami ada belanjaan yang tertinggal di dalam bis. Ya Allah.. dan yang tertinggal itu yukatanya dan ponakan kami. Sejenak kamipun panik, lalu akhirnya setelah berdiskusi dan mengetahui tujuan akhir bisnya di daerah Ginkaku-ji maka kamipun berencana mengejar dengan sepeda karena khawatir jika mengejar dengan bis yang sama nanti arah pulang sudah stop operasi.
Ternyata lumayan jauh dan jalanannya menanjak, karena ke arah bukit. Setelah berlelah payah bertanya, mengejar bis yang sejenis maka tibalah kami di pool bisnya. Dan masalah datang ketika kami mencoba berkomunikasi dengan penjaga pos pool bis, dia tidak terlalu memahami bahasa inggris.. kamipun diminta untuk menelepon keesokan harinya untuk menghubungi bagian costumer... Dan setelah nyaris putus asa tidak bisa berkata-kata maka kami beranjak menuju tempat kami memarkir sepeda, namun beberapa langkah terlewati tiba-tiba salah seorang penjaga pos memanggil kami, apakah ini barang yang anda cari? dannnnn..... benar ternyata barang itu adalah barang kami yang tertinggal, dalam keadaan utuh tanpa cacat dan masih bersegel dari toko, Subhanallah walhamdulillah.
Mengapa kejadian berulang? ya nyaris serupa dengan kejadian yang kami alami ketika di Indonesia, berpayah-payah mengejar pool bis jurusan Cibinong-Kp.Rambutan yang berada di daerah Cileungsi untuk mencari dompet yang terjatuh, namun apa yang diharap tak sesuai kenyataan. Jangankan berharap bantuan atau informasi yang berarti atau diminta menghubungi bagian informasi, bahkan kami diminta cari sendiri di setiap bis yang terparkir. Dannn ... hilang, Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa sembari mengikhlaskan semua isi dompet yang hilang. Bukan uangnya yang disesali namun berbagai kartu tanda pengenal yang dipikirkan, menyiapkan berbagai persyaratan administratif kembali dan menjalani proses pembuatan yang ...
Bila budaya tidak mengambil yang bukan haknya bisa hadir secara merata di negeri tercinta? semoga segera terjadi di masa mendatang... aamin
Peristiwa yang memberi kesan adalah disaat kami kebingungan mengenai halte bis, dan setelah mengejar bis yang telah beranjak sekian menit akhirnya kami menunggu untuk bis selanjutnya maka tiba-tiba dari arah belakang datang seorang kakek berusia 70-an (ceritanya) dengan bahasa inggris a la japanese maka berkomunikasilah kami, beragam cerita mengalir dan kamipun menjadi sejenak akrab, lalu bergabunglah seorang ibu ikut berdialog dengan kami mengenai arah dan tujuan bis yang hendak kami naiki. Setelah beberapa menit berlalu datanglah bis yang ditanti, lalu naiklah kami dengan ibu yang terakhir bergabung, dia berkata nanti kalau sudah sampai halte demachiyanagi diberi tahu. Dan setelah sampai di halte yang dituju bermulalah cerita ini...
Ya setelah kami turun dari bis, dan berjalan tiba-tiba sadarlah kami ada belanjaan yang tertinggal di dalam bis. Ya Allah.. dan yang tertinggal itu yukatanya dan ponakan kami. Sejenak kamipun panik, lalu akhirnya setelah berdiskusi dan mengetahui tujuan akhir bisnya di daerah Ginkaku-ji maka kamipun berencana mengejar dengan sepeda karena khawatir jika mengejar dengan bis yang sama nanti arah pulang sudah stop operasi.
Ternyata lumayan jauh dan jalanannya menanjak, karena ke arah bukit. Setelah berlelah payah bertanya, mengejar bis yang sejenis maka tibalah kami di pool bisnya. Dan masalah datang ketika kami mencoba berkomunikasi dengan penjaga pos pool bis, dia tidak terlalu memahami bahasa inggris.. kamipun diminta untuk menelepon keesokan harinya untuk menghubungi bagian costumer... Dan setelah nyaris putus asa tidak bisa berkata-kata maka kami beranjak menuju tempat kami memarkir sepeda, namun beberapa langkah terlewati tiba-tiba salah seorang penjaga pos memanggil kami, apakah ini barang yang anda cari? dannnnn..... benar ternyata barang itu adalah barang kami yang tertinggal, dalam keadaan utuh tanpa cacat dan masih bersegel dari toko, Subhanallah walhamdulillah.
Mengapa kejadian berulang? ya nyaris serupa dengan kejadian yang kami alami ketika di Indonesia, berpayah-payah mengejar pool bis jurusan Cibinong-Kp.Rambutan yang berada di daerah Cileungsi untuk mencari dompet yang terjatuh, namun apa yang diharap tak sesuai kenyataan. Jangankan berharap bantuan atau informasi yang berarti atau diminta menghubungi bagian informasi, bahkan kami diminta cari sendiri di setiap bis yang terparkir. Dannn ... hilang, Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa sembari mengikhlaskan semua isi dompet yang hilang. Bukan uangnya yang disesali namun berbagai kartu tanda pengenal yang dipikirkan, menyiapkan berbagai persyaratan administratif kembali dan menjalani proses pembuatan yang ...
Bila budaya tidak mengambil yang bukan haknya bisa hadir secara merata di negeri tercinta? semoga segera terjadi di masa mendatang... aamin
Assalamua'alaikum, salam kenal ya Pa. Ini istrinya A Wira. Tau blog ini juga dari Fb a Wira hehehe..
BalasHapusSeneng banget liat pengalaman Pa Oke selama di Jepang. Soalnya saya juga pengen banget bisa travelling ke Jepang... Kapan ya?? hee... Semoga sukses ya Pa. Salam dari A Wira. Dan Salam kenal juga untuk istri Pa Oke.
Waalaikumsalam wrwb, salam kenal bu, oh ya apa kabar bu? ya Alhamdulillah dapat kesempatannya bu, semoga ibu dan pak Wira juga diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di Jepang, aaamin. Sukses juga untuk ibu dan pak wira, ganbatte. salam kembali untuk ibu dan Pak Wira
BalasHapus